Total Tayangan Laman

Jumat, 25 Januari 2013

makalah proses pemerolehan bahasa anak



PROSES PEMEROLEHAN BAHASA ANAK

MAKALAH

Dosen Pengampu : Didit Dwi Jayanto M.Pd



                                                                    


Kelompok 6



PROGRAM STUDI  PGSD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2012
PROSES PEMEROLEHAN BAHASA ANAK

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia pada program studi S1 Pendidikan Dasar



Disusun Oleh :
1.     Ali Mustofa ( 118620600098 )
2.     Rischa Ayuni ( 118620600106 )
3.     Iwan Pranoto ( 118620600129 )
4.     Riri Indrayani ( 118620600139 )
5.     Muhammad Alifih ( 118620600157 )





PROGRAM STUDI  PGSD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2012





















KATA PENGANTAR
                   Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah m,emberikan rahmat,hidayah,dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Proses Pemerolehan Bahasa Anak ini dengan baik.Meskipun ini jauh dari sempurna tapi kami akan berusaha untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
                   Kami juga memohon untuk para pembaca ikut berpartisipasi sekedar membaca makalah ini untuk menambah wawasan dan pengeetahuan.Semoga makalah ini bermanfaat.






Sidoarjo, 2012
Tim Penyusun







BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah suatu simbol yang digunakan untuk berkomunikasi antar individu lain. Anak memperoleh bahasa itu melalui teori , tahapan dan strategi.Dimana disini kita akan membahas tentang bagaimana seorang anak itu memperoleh bahasa dari mulai dia kecil sampai merke beranjak dewasa.Seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana seorang anak itu memperoleh bahasa?
2.      Bagaimana proses pemerolehan bahasa anak?
3.      Apa kelemahan dari anak dalam memperoleh bahasa?


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dan Teori Pemerolehan Bahasa Anak
a. Pengertian Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal. Lyons (1981:252) menyatakan suatu bahasa yang digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa disebut pemerolehan bahasa. Artinya, seorang penutur bahasa yang dipakainya tanpa terlebih dahulu mempelajari bahasa tersebut.
Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya. Kelancaran bahasa anak dapat diketahui dari perkembangan apa? Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam diri seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan hasil kontak verbal dengan penutur asli lingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah pemerolehan bahasa mengacu ada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari.



b. Pandangan Teori Pemerolehan Bahasa
Dari beberapa pengertian di atas, dapatlah dinyatakan bahwa pembelajaran bahasa adalah suatu proses secara sadar yang dilakukan oleh anak (pembelajar) untuk menguasai bahasa yang dipelajarinya. Penguasaan bahasa tersebut biasanya dilakukan melalui pengajaran yang formal dan dilakukan secara intensif. Selanjutnya, yang dimaksudkan dengan pemerolehan bahasa adalah suatu proses penguasaan bahasa anak yang dilakukan secara alami yang diperoleh dari lingkungannya dan bukan karena sengaja mempelajarinya dengan verbal. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan dari hasil kontak verbal dengan penutur asli di lingkungan bahasa itu.
1) Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik
Paling tidak ada tiga pandangan yang berkaitan dengan teori pemerolehan bahasa. Ketiga pandangan itu ialah teori behavioristik, teori mentalistik, dan teori kognitiftik. Untuk lebih jelasnya ketiga teori tersebut dapat diuraikan satu per satu berikut ini. Menurut pandangan kaum behavioristik atau kaum empirik atau kaum antimentalistik, bahwa anak sejak lahir tidak membawa strutur linguistik. Artinya, anak lahir tidak ada struktur linguistik yang dibawanya. Anak yang lahir dianggap kosong dari bahasa.
Mereka berpendapat bahwa anak yang lahir tidak membawa kapasitas atau potensi bahasa. Brown dalam Pateda (1990:43) menyatakan bahwa anak lahir ke dunia ini seperti kain putih tanpa catatan-catatan, lingkungannyalah yang akan membentuknya yang perlahan-lahan dikondisikan oleh lingkungan dan pengukuhan terhadap tingkah lakunya.

            Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Pengalaman dan proses belajar yang akan membentuk akuisisi bahasanya. Dengan demikian, bahasa dipandang sebagai sesuatu yang dipindahkan melalui pewarisan kebudayaan, sama halnya seperti orang yang akan belajar mengendarai sepeda.
Menurut Skinner (Suhartono, 2005:73) tingkah laku bahasa dapat dilakukan dengan cara penguatan. Penguatan itu terjadi melalui dua proses yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, yang paling penting di sini adalah adanya kegiatan mengulangulang stimulus dalam bentuk respon. Oleh karena itu, teori stimulus dan respon ini juga dinamakan teori behaviorisme.
Dikaitkan dengan akuisisi bahasa, teori behavioris mendasarkan pada proses akuisisi melalui perubahan tingkah laku yang teramati. Gagasan behavioristik terutama didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatian tertuju pada peranan lingkungan, baik verbal maupun nonverbal. Teori belajar behavioris ini menjelaskan bahwa perubahan tingkah laku dilakukan dengan menggunakan model stimulus (S) dan respon (R) Dengan demikian, akuisisi bahasa dapat diterangkan berdasarkan konsep SR. Setiap ujaran dan bagian ujaran yang dihasilkan anak adalah reaksi atau respon terhadap stimulus yang ada. Apabila berkata, “Bu, saya minta makan”, sebenarnya sebelum ada ujaran ini anak telah ada stimulus berupa perut terasa kosong dan lapar. Keinginan makan, antara lain dapat dipenuhi dengan makan nasi atau bubur. Bagi seorang anak yang beraksi terhadap stimulus yang akan datang, ia mencoba menghasilkan sebagian ujaran berupa bunyi yang kemudian memperoleh pengakuan dari orang yang di lingkungan anak itu.


Kaum behavioris memusatkan perhatian pada pola tingkah laku berbahasa yang berdaya guna untuk menghasilkan respon yang benar terhadap setiap stimulus. Apabila respon terhadap stimulus telah disetujui kebenarannya, hal itu menjadi kebiasaan. Misalnya seorang anak mengucapkan , "ma ma ma",dan tidak ada anggota keluarga yang menolak kehadiran kata itu, maka tuturan "ma ma ma", akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu akan diulangi lagi ketika anak tadi melihat sesosok tubuh manusia yang akan disebut ibu yang akan dipanggil "ma ma ma". Hal yang sama akan berlaku untuk setiap kata-kata lain yang didengar anak.
Teori akuisisi bahasa berdasarkan konsep behavioris menjelaskan bahwa anak-anak mengakuisisi bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan cara meniru. Dalam hubungan dengan peniruan ini Pateda (1990:45) menyatakan bahwa faktor yang penting dalam peniruan adalah frekuensi berulangnya satu kata dan urutan kata. ujaran-ujaran itu akan mendapat pengukuhan, sehingga anak akan lebih berani menghasilkan kata dan urutan kata. Seandainya kata dan urutan kata itu salah, maka lingkungan tidak akan memberikan pengukuhan. dengan cara ini, lingkungan akan mendorong anak menghasilkan tuturan yang gramatikal dan tidak memberi pengukuhan terhadap tuturan yang tidak gramatikal.
2) Teori Pemerolehan Bahasa Mentalistik
Menurut pandangan kaum mentalis atau rasionalis atau nativis, proses akuisisi bahasa bukan karena hasil proses belajar, tetapi karena sejak lahir ia telah memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang sesuai dengan proses kematangan intelektualnya.


Hal ini sesuai dengan pendapat Chomsky (1959) bahwa anak yang lahir ke dunia ini telah membawa kapasitas atau potensi. Potensi bahasa ini akan turut menentukan struktur bahasa yang akan digunakan. Pandangan ini yang akan kelask disebut hipotesis rasionalis atau hipotesis ide-ide bawaan yang akan dipertentangkan dengan hipotesis empiris yang berpendapat bahwa bahasa diperoleh melalui proses belajar atau pengalaman.
Seperti telah dikatakan di atas bahwa anak memiliki kapasitas atau potensi bahasa maka potensi bahasa ini akan berkembang apabila saatnya tiba. Pandangan ini biasanya disebut pandangan nativis (Brown, 1980:20). Kaum mentalis beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki apa yang disebut LAD (Language Acquisition Device). Kelengkapan bahas ini berisi sejumlah hipotesis bawaan. Hipotesis bawaan menurut para ahli berpendapat bahasa adalah satu pola tingkah laku spesifik dan bentuk tertentu dari persepsi kecakapan mengategorikan dan mekanisme hubungan bahasa, secara biologis telah ditemukan (Comsky, 1959).
Mc Neill (Brown, 1980:22) menyatakan bahwa LAD itu terdiri atas:
a) kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b) kecakapan mengorganisasi satuan linguistik ke dalam sejumlah kelas yang akan berkembang kemudian;
c) pengetahuan tenteng sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkin, dan kecapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian perkembangan sistem linguistik, Dengan demikian, dapat melahirkan sistem yang dirasakan mungkin diluar data linguistik yang ditemukan.


Pandangan kaum mentalis yang perlu diperhatikan adalah penemuan mereka tentang sistem bekerjanya bahasa anak. Chomsky dan kawan-kawan berpendapat bahwa perkembangan bahasa anak bukanlah perubahan rangkaian proses yang berlangsung sedikit semi sedikit pada struktur bahasa yang tidak benar, dan juga standia lanjut. Akan tetapi standia yang bersistem yang berbentuk kelengkapan-kelengkapan bawaan ditambah dengan pengalaman anak ketika ia melaksanakan sosialisasi diri. Kelengkapan bawaan ini kemudian diperluas, dikembangkan, dan bahkan diubah.
Dalam hubungan anak membawa sejumlah kapasitas dan potensi, kaum mentalis memberikan alasan-alasan sebagai berikut:. Semua manusia belajar bahasa tertentu; semua bahasa manusia sama-sama dapat dipelajari oleh manusia; semua bahasa manusia bebeda dalam aspek lahirnya, tetapi semua bahasa mempunyai ciri pembeda yang umum, ciri-ciri pembeda ini yang terdapat pada semua bahasa merupakan kunci terhadap pengertian potensi bawaan bahasa tersebut. Argumen ini mengarahkan kita kepada pengambilan kesimpulan bahwa potensi bawaan bukan saja potensi untuk dapat mempelajari bahasa, tetapi hal itu merupakan potensi genetik yang akan menentukan struktur bahasa yang akan dipelajarinya.
3) Teori Akuisisi Bahasa Kognitif
Dalam psikolingustik, teori kognitif ini yang memandang bahasa lebih mendalam lagi. Para penganut teori ini, berpendapat bahwa kaidah generatif yang dikemukakan oleh kaum mentalis sangat abstrak, formal, dan eksplisit serta sangat logis.


Meskipun demikian, mereka mengemukakan secara spesifik dan terbatas pada bentuk-bentuk bahasa. Mereka belum membahas hal-hal menyangkut dalam lapisan bahasa, yakni ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh dalam struktur jiwa manusia. Para ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa adalah manifestasi dari perkembangan umum yang merupakan aspek kognitif dan aspek afektif yang menyatakan tentang dunia diri manusia itu sendiri.
Teori kognitif menekankan hasil kerja mental, hasil kerja yang nonbehavioris. Proses-proses mental dibayangkan sebagai yang secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik pemahaman maupun produksi serta komprehensi, bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi, stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
Teori kognitif telah membawa satu persoalan dalam pemberian organisasi kognitif bahasa anak. Persoalan itu, yakni belum ada model yang terperinci yang memeriksa organisasi kognitif bahasa anak itu. Untunglah Slobin telah menformulasikan sejumla prinsip operasi yang telah menarik perhatian para ahli, Clark dan Clark (Hamied,1987:22-23) telah menyusun kembali dan memformulasikan prinsip operasi Slobin tersebut.



Prinsip koherensi semantik ada tiga aspek yaitu mencari modifikasi sistematik dalam bentuk kata; mencari penanda gramatis yang dengan jelas menunjukkan perbedaan yang mendasari dan menghindari kekecualian.
Prinsip Struktur lahir meliputi: memperhatikan ujung kata; memperhatikan urutan kata, awalan, dan akhiran; dan menghindari penyelaan atau pengaturan kembali satu-satuan linguistik.
Tiga Prinsip koherensi semantik behubungan dengan peletakan gagasan terhadap bahas, sedangkan tiga prinsip struktur lahir berkenaan dengan masalah segmentasi yaitu bagaimana membagi alur ujaran yang terus-menerus menjadi satuan-satuan linguistik yang terpisah dan bermakna.
Penganut teori kognitif beranggapan bahwa ada prinsip yang mendasari organisasi linguistik yang digunakan oleh anak untuk menafsirkan serta mengoperasikan lingkungan linguistiknya. Semua ini adalah hasil pekerjaan mental yang meskipun tidak dapat diamati, jelas mempunyai dasar fisik. Proses mental secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diamati, dan karena berbeda dengan pandangan behavior (Pateda, 1990)

2.2 Tahap Pemerolehan Bahasa Anak

Berbagai penelitian membuktikan bahwa manusia normal mengalami tahapan yang hampir sama dalam pemerolehan bahasa pertamanya. Dalam hal ini, peneliti mengambil teori dari tiga orang ahli yaitu Aitchison, Schaerlaekens, dan Ruqayyah.


A. Perkembangan Bahasa Menurut Aitchison
            Menurut Aitchison dalam Harras dan Andika (2009: 50-56), tahap kemampuan bahasa anak terdiri atas hal-hal berikut.
Tahap Perkembangan Bahasa
Usia
Menangis
Lahir
Mendekur
6 minggu
Meraban
6 bulan
Pola intonasi
8 bulan
Tuturan satu kata
1 tahun
Tuturan dua kata
18 bulan
Infleksi kata
2 tahun
Kalimat tanya dan ingkar
2 ¼ tahun
Konstruksi yang jarang dan kompleks
5 tahun
Tuturan yang matang
10 tahun
 




1) Menangis
Menangis pada bayi ternyata memiliki beberapa tipe makna. Ada tangisan untuk minta minum, minta makan, kesakitan, dan sebagainya. Tangisan merupakan komunikasi yang bersifat instingtif seperti halnya sistem panggil pada binatang. Hasil penelitian membuktikan bahwa makna tangisan itu bersifat universal.

2) Mendekur
Fase yang mirip dekuran merpati ini dimulai saat anak berusia sekitar enam tahun. Mendekur sebenarnya sulit dideskripsikan. Bunyi yang dihasilkannya mirip dengan bunyi vokal, tetapi hasil penelitian menggunakan spektogram menunjukkan bahwa hasil bunyi itu tidak sama dengan bunyi vokal yang dihasilkan orang dewasa. Beberapa buku menyebut fase ini sebagai gurgling atau mewling. Mendekur pun bersifat universal.

3) Meraban
Secara bertahap, bunyi konsonan akan muncul pada waktu anak mendekur, dan ketika usia anak mendekati enam bulan, ia memasuki fase meraban. Secara impresif anak menghasilkan vokal dan konsonan secara serentak. Awalnya, ia mengucapkan sebagai suku kata, tetapi akhirnya vokal dan konsonan itu menyatu.



Pada fase meraban, anak menikmati eksperimennya dengan mulut dan lidahnya, sehingga fase ini merupakan fase pelatihan bagi alat ucap. Bunyi yang biasanya dikeluarkan berupa mama, papapa, dan dadada.

4) Pola Intonasi
Anak-anak mulai menirukan pola-pola intonasi sejak usia delapan atau sembilan bulan. Hasil tuturan anak mirip dengan tuturan ibunya. Anak tampaknya menirukan tuturan orang tuanya tetapi hasilnya tidak dipahami oleh orang sekelilingnya. Ibu-ibu sering mengidentifikasikan bahwa anaknya menggunakan intonasi tanya dengan nada tinggi pada akhir kalimatnya, sehingga orang tua sering melatih anaknya berbicara dengan bertanya "Kamu mau apa?" dan sebagainya.

5) Tuturan satu kata
Sekitar umur dua belas sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Jumlah kata yang diperoleh anak bervariasi. Lazimnya, rata-rata anak memperoleh sekitar lima belas kata. Kata-kata yang biasanya dituturkan misalnya papa, mama, bobo, meong, dan sebagainya.




6) Tuturan dua kata
Ciri yang paling menonjol dalam fase ini ialah kenaikan kosakata anak yang muncul secara drastis. Ketika usianya menginjak dua setengah tahun, kosakatanya mencapai hampir ratusan kata.
Pada awal tahap dua kata ini tuturan anak cenderung disebut telegrafis. Ia berbicara seperti orang mengirim telegram, yakni hanya kata-kata penting saja yang disampaikan. Tuturan yang awalnya Ani susu berubah menjadi Ani mau minum susu.

7) Infleksi kata
Kata-kata yang awalnya dianggap remeh oleh anak akhirnya dimunculkan juga. Dalam bahasa Indonesia, kata yang biasanya muncul ialah afiks, misalnya anak sebelumnya hanya mengatakan Kakak mukul adik menjadi Kakak memukul adik atau Adik dipukul kakak. Dalam tahap ini pun anak mulai memperoleh kata majemuk, seperti orang tua, namun pemerolehan tersebut tidaklah signifikan karena kemampuan setiap anak bervariasi.

8) Kalimat tanya dan ingkar
Dalam bahasa Indonesia, anak mulai memperoleh kalimat tanya seperti apa, siapa, dan kapan pada kalimat seperti Apa ini?, Siapa orang itu?, dan Kapan ayah pulang?, sedangkan kalimat ingkar biasanya berupa kalimat-kalimat seperti Kakak tidak nakal, Saya tidak mau makan, Kue ini tidak enak, dan Ini bukan punya adik.

9) Konstruksi yang jarang atau kompleks
Pada usia lima tahun, anak secara mengesankan memperoleh bahasa yang terus berlanjut meskipun agak lamban. Tuturan anak usia lima tahun berbeda dengan tuturan atau tata bahasa orang dewasa, tetapi mereka tidak menyadari kekurangan mereka itu. Mereka selalu menganggap bahwa tuturannya sama dengan orang dewasa dan akan selalu menyamakannya. Dalam tes pemahaman, anak-anak siap untuk mengerjakan dan menafsirkan struktur yang diberikan kepadanya, tetapi sering mereka menafsirkannya secara keliru. Hal tersebut tampak dalam kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk bertingkat yang biasanya mereka tuturkan seperti Ali dan kakaknya pergi ke sekolah meskipun hujan. Tahap inilah yang dianggap tahap rumit dalam fase perkembangan bahasa anak.
10) Tuturan matang
                        Perbedaan tuturan anak-anak dengan orang dewasa secara perlahan akan berkurang ketika usia anak semakin bertambah. Ketika usianya mencapai sebelas tahun, anak mampu menghasilkan kalimat perintah yang sama dengan kalimat perintah orang dewasa, misalnya Tolong ambilkan buku itu!.
Ketika meningkat usia pubertas, perkembangan bahasa anak dikatakan sudah lengkap. Tentu saja ia akan terus mengembangkan perbendaharaan kosakatanya, dan kaidah tata bahasanya pun akan berubah.



Menurut Yulianti (2002), semua tahap ini pasti dilalui setiap anak normal, sedangkan anak yang memiliki gangguan fisik hanya melewati beberapa tahap perkembangan bahasa saja. Hal itu menunjukkan bahwa kematangan berbahasa dipengaruhi pula oleh kematangan fisik.

B. Perkembangan Bahasa Menurut Schaerlaekens
            Tahapan perkembangan bahasa yang dialami anak menurut Schaerlaekens dalam Mar’at (2005: 61) terdiri atas beberapa hal sebagai berikut.
1) Periode pralingual
Umumnya tahap ini dialami anak pada usia 0-1 tahun, ketika anak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi yang merupakan reaksi terhadap situasi tertentu dengan tahapan sebagai berikut.
a.       Tahap mendekut (cooing). Anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal atau   konsonan (/a/).
b.      Tahap berceloteh (babbling). Anak mengeluarkan gabungan mirip vokal dan konsonan (/p/, /b/, /m/).
2) Periode lingual
Tahap ini umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun, ketika anak mulai mengucapkan kata-kata dengan tahapan sebagai berikut.


a.    Tahap ujaran holofrastik. Anak mampu memproduksi satu kata yang dapat menyatakan lebih dari satu maksud.
b.    Tahap ujaran telegrafik. Anak mampu memproduksi dua kata sebagai pernyataan suatu maksud.
c.    Tahap lebih dari dua kata. Anak mulai memproduksi lebih dari dua kata dan menunjukkan perkembangan morfologis. Komunikasinya pun tidak lagi bersifat egosentris.
3) Periode diferensiasi
Umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun, ketika anak dianggap telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi mulai berjalan baik. Anak juga mulai mampu mengomunikasikan persepsi dan pengalamannya kepada orang lain. Perkembangan aspek fonologi telah berakhir walaupun masih ada kesukaran tertentu. Aspek kosakata berkembang baik secara kualitatif dan kuantitatif. Anak juga telah mampu membedakan nomina dan verba serta menggunakan pronomina dan preposisi.
C. Perkembangan Bahasa Menurut Ruqayyah
            Menurut Ruqayyah (2008) dalam http://massofa.wordpress.com/2008/11/ 19/pemerolehan-bahasa-anak-usia-4-6-tahun/html, perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu sebagai berikut.



1) Perkembangan prasekolah
Perkembangan pemerolehan bahasa anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, yaitu anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain, serta hubungan dengan objek dan tindakan.
Selain itu ada pula tahap satu kata, yaitu anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperoleh lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, sosialisasi, dan tempat. Tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang, yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan atau relasi.
Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak berawal dari membuat bunyi menuju arah membuat pengertian. Anak biasanya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara manusia dan bukan manusia, bunyi ekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal ini menjadi perbendaharaan mereka.
Menurut Nuraeni (2009: 5), panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk perkembangan bahasa yang lebih baik dari pada urutan usianya. Jumlah morfem rata-rata per ucapan dapat digunakan sebagai ukuran panjangnya.
2) Perkembangan ujaran kombinatori
Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian, yaitu perkembangan negatif, interogatif, penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Perkembangan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentang masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak.
3) Perkembangan masa sekolah
Pada perkembangan masa sekolah, orientasi seorang anak dapat berbeda-beda. Ada anak yang lebih impulsif dari pada anak yang lain, lebih refleksif dan berhati-hati, cenderung lebih jelas dan nyata dalam berekspresi, lebih senang belajar dengan bermain-main, sementara yang lain lebih pragmatis dalam pemakaian bahasa. Setiap bahasa anak akan mencerminkan kepribadiannya sendiri pada masa ini.
Selama masa sekolah, anak mengembangkan dan memakai bahasa secara unik dan universal. Pada saat itu anak menandai atau memberinya ciri sebagai pribadi yang ada dalam masyarakat itu. Perkembangan bahasa pada masa sekolah dapat dibedakan dengan jelas dalam tiga bidang, yaitu struktur bahasa, pemakaian bahasa dan kesadaran meta linguistik.

STRATEGI PEMEROLEHAN BAHASA ANAK

Pada kegiatan belajar 1 kita telah mempelajari perkembangan pemerolehan bahasa lisan anak sejak bayi sampai usia pra-sekolah. Pada kegiatan belajar 2 ini, kita akan membahas faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak serta cara yang mereka tempuh dalam mempelajari bahasa pertamanya, khususnya ragam bahasa lisan.

A. Faktor-Faktor Yang Memepngaruhi Pemerolehan Bahasa Anak
Sungguh menakjubkan hanya dalam waktu sekitar 4 tahun anak-anak telah menguasai sistem B1-Nya. Penguasaan sistem bahasa itu telah memungkinkan mereka mampu memahami dan menciptakan tuturan atau kalimat-kalimat yang belum pernah diperdengarkan dan diucapkan sebelumnya. Sebagai orang tua, mungkin anda pernah bertanya-tanya mengapa anak-anak itu belajar dan menguasai B1-Nya begitu cepat.
Untuk itu, sebelum melanjutkan membaca, cobalah anda kerjakan pertanyaan berikut ini terlebih dahulu. Apabila anda dapat menjawab 80% dengan benar maka anda sebenarnya telah memiliki pengetahuan materi kegiatan belajar ini dengan baik. Silakan kerjakan selama 10 menit!
Tatkala kita mengamati perkembangan bahasa anak yang begitu pesat dan menakjubkan muncul pertanyaan di benak kita. Bagaimana anak bisa memperoleh kemamppuan berbahasa seperti itu? Apakah memang pembawaan anak dari sananya atau ada unsur-unsur lain yang memungkinkannya memiliki kemahiran berbahasa seperti itu?” Ada 2 persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimilikinya, serta dukungan sosial yang diperolehnya. Selain itu terdapat faktor-faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal diatas, yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak.

1. Faktor Biologis
Setiap anak yang lahir telah dilengkapi dengan kemamuan kodrati atau alami yang memungkinkannya menguasai bahasa. Potensi alami itu bekerja secara otomatis. Chomsky (1975 dalam Santrock, 1994) menyebut potensi yang terkandung dalam perangkat biologis anak dengan istilah Piranti pemerolehan bahasa (Language Acquisition Devives). Dengan piranti itu, anak dapat menercap sistem suastu bahasa yang terdiri atas subsitem fonologis, tata bahasa, kosakata, dan pragmatik, serta menggunakannya dalam berbahasa.
Perangkat biologis yang menentukan anak dapat memperoleh kemampuan bahasanya ada 3, yaitu otak (sistem syaraf pusat), alat dengar, dan alat ucap.
Dalam proses berbahasa, seseorang dikendalikan oleh sistem syaraf pusat yang ada di otaknya. Pada belahan otak sebelah kiri dikendalikan oleh sistem syaraf pusat yang ada di mengontrol produksi atau penghasilan bahasa, seperti berbicara dan menulis. Pada belahan otak sebelah kanan terdapat wilayah wernicke yang mempengaruhi dan bagian otak itu terdapat wilayah motor suplementer. Bagian ini berfungsi untuk mengendalikan unsur fisik penghasil ujaran.
Berdasarkan tugas tenaga bagian otak itu, alur penerimaan dan penghasilan bahasa dapat disederhanakan seperti berikut. Bahasa didengarkan dan dipahami melalui daerah Wernicke. Isyarat bahasa itu kemudian dialihkan ke daerah Broca untuk mempersiapkan penghasilan balasan. Selanjutnya isyarat tanggapan bahasa itu dikirimkan ke daerah motor, seperti alat ucap, untuk menghasilkan bahasa secara fisik.

2. Faktor Lingkungan Sosial
Untuk memperoleh kemampuan berbahasa, seorang anak memerlukan orang lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Anak yang secara sengaja dicegah untuk mendegarkan sesuatu atau menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi, tidak akan memiliki kemampuan berbahasa. Mengapa demikian? Bahasa yang diperoleh anak tidak diwariskan secara genetis atau keturunan, tetapi didapat dalam lingkungan yang menggunakan bahasa. Atas dasar itu maka anak memerlukan orang lain untuk mengirimkan dan menerima tanda-tanda suara dalam bahasa itu secara fisik. Anak memerlukan contoh atau model berbhasa, respon atau tanggapan, secara temah untuk berlatih dan beruji coba dalam belajar bahasa dalam konteks yang sesungguhnya.
Dengan demikian, lingkungan sosial tempat anak tinggal dan tumbuh, seperti keluarga dan masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pemerolehan bahasa anak. Lalu, bagaimana kaitan lingkungan sosial dengan perangkat biologis yang telah dimiliki anak lahir? Apakah kalau unsur biologis anak normal masih tetap memerlukan lingkungan sosial untuk mendapatkan kemampuan berbahasanya?
Kaitan keduanya sangat erat, tak terpisahkan. Kehilangan salah satu dari keduanya akan mengakibatkan anak tidak mampu berbahasa. Jika disederhanakan piranti biologis adalah wadah atau alat maka lingkungan berperan memberi isi atau muatan. Apabila digambarkan maka bentuknya seperti berikut.
Banyak bukti menunjukkan bahwa otak alat dengar dan alat ucap, memiliki peran dasar sangat penting. Gangguan pada salah satu dari ketiganya akan sangat menghambat bahasa anak. Lennerberg (1975 dalam Cahyono, 1995) membuktikannya melalui penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak tunarungu, lemah mental, dan tnawicara.
Dari kajiannya mengenai anak-anak tunarungu, Lennerberg menemukan fakta berikut. Tiga belum setelah dilahirkan anak-anak tunarungu dapat menghasilkan bunyi-bunyi yang sama seperti anak normal. Dari bulan keempat hingga bulan kedua belas, hanya sebagian bunyi yang mereka hasilkan sama dengan anak normal. Setelah itu, bunyi-bunyi yang mereka hasilkan lebih terbatas dari pada bunyi-bunyi yang diproduksi anak yang berpendengaran normal.
Hasil pengajaran terhadap anak-anak tunarungu menunjukkan bahwa peluang mereka untuk belajar menggunakan suara dan alat ucapnya sangat kecil. Ketika mereka berusaha berbicara, kualitas suara mereka berubaha dengan tekanan yang kurang biak serta pula informasi yang tak terkendali.
Anak-anak lemah mental cenderung mengartikulasikan tuturannya secara lemah dengan gramatika yang banyak mengandung kesalham. Kesalahan itu kadang-kadang pembicarannya bahwa mereka kurang memahami apa yang disampaikannya dan topik pembicarannya kabur, kurang terarah.
Berdasarkan kajian Lennerberg, anak-anak tunarungu tidak dapat berceloteh dan menirukan kata. Mereka tidak dapat memiliki kemampuan mengartikulasikan atau membunyikan tuturannya secara normal. Hal ini disebabkan adanya gangguan alat ucap mereka. Meskipun demikian, mereka dapat memahami tuturan dengan relatif baik.
Demikianlah uraian mengenai peranan unsur biologis yang akibatnya lebih rendah terjadinya pemerolehan bahasa anak. Hambatan biologis yang akibatnya lebih rendah dalam pemilikan bahasa dapat anda amati pada anak-anak gagap, cadel, atau sengau.
Konsep lingkungan sosial di sini mengacu kepada berbagai perilaku berbahasa setiap individu, seperti orang tua, saudara, anggota masyarakat sekitar, dalam mendukung perkembangan bahasa anak. Dukungan dan keterlibatan sosial ini diperlukan anak. Inilah yang disebut Bruner (1983 dalam Santrock, 1994) sebagai sistem pendukung pemerolehan bahasa (langsung acquisition supprot system).
Kita semua tahu bawah pemakai bahasa yang baik itu harus memiliki dua hal. Pertama dia harus menguasai sistem atau aturan bahasa yang digunakannya. Kedua, dia juga harus memehami dan menguasai aturan sosial penggunaan bahsa itu. Kita akan menyebut kurang ajar apbila seorang anak berbahasa dengan gurunya menggunakan ragam dan cara bahasa seperti dengan kawa sebayanya. Nah, apabila piranti biologis memungkinkan anak memahami sistem bahasanya maka lingkungan sosial memberikan kesempatan baginya untuk berinteraksi dengan bahasa yang dimilikinya sehingga bahasanya berfungsi secara wajar.
Selanjutnya bagaimakanah lingkungan sosial itu memberikan dukungan kepada anak dalam belajar bahasa? Banyak cara! Di antaranya adalah berikut ini.
a. Bahasa semang (motheresse) yaitu penyederhanaan bahasa oleh orang tua atau orang dewasa lainnya ketika berbicara dengan bayi anak kecil. Misalnya, “Napa chayang? Mau mimi, iya? Bentar, ya!”
b. Parafrase, yaitu pengungkapan kembali ujaran yang diucapkan anak dengan cara yang berbeda. Misalnya kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan. Efek parafase ini sangat menolong anak belajar bahasa. Oleh karena itu, orang dewasa sebaiknya membiarkan anak menunjukkan minat serta mengungkapkannya dalam bentuk komentar, demontrasi dan menjelaskan. Menurut Rice (Santrock, 1994), pendekatan direktif atau langsung sewaktu berkomunikasi dengan anak akan mengganggunya. Misalnya:
Anak : “Mammam!”
Ibu : “Oh, maem, chayang?” (Oh maka, sayang?)
c. Menegaskan kembali (echoing) yaitu mengulang apa yang dikatakan anak, terutama apabila tuturannya tidak lengkap atau tidak sesuai dengan maksud. Misalnya:
Anak : “Mah itu!” sambil menunjuk. Mukanya seperti ketakutan.
Ibu : “Oh, cecak, Rani takut cecak? Nggak apa-apa. Cecak baik, kok!”
Anak : “Iya!”
d. Memperluas (expanding) yaitu mengungkapkan kembali apa yang dikatakan anak dalam bentuk kebahasaan yang lebih kompleks.
e. Menamai (labeling), yaitu mengindentifikasi nama-nama benda. Bisa dalam bentuk benda sebenarnya atau benda tiruan (realia), gambar, permainan kata, dan sebagainya.
f. Penguatan (reinforcement) yaitu menanggapi atau memberi respon positif atas perilaku bahasa anak. Misalnya, dengan memuji, memberi acungan jempol, dan tepuk tangan.
g. Pemodelan (modelling), yaitu contoh berbhasa yang dilakukan orang tua atau orang dewasa (Santrock, 1994; Benson, 1998).
Semakin kuat rangsangan dan dukungan sosial terhadap bahasa anak, akan semakin kaya pula masukan dan kemampuan berbahasanya. Sebaliknya, apabila dukungan sosial itu kurang atau negatif maka masukan bahasa anak pun akan sedikit. Dengan demikian, tingkat masukan bahasa yang diperoleh anak akan mempengaruhi tingkat perkembangan bahasanya.
Begitu pentingnya peranan unsur atau lingkungan sosial terhadap pemerolehan bahasa anak. Seandainya saja seorang anak normal diasingkan dan tumbuh di lingkungan hutan, di antara hewan-hewan hutan, niscaya bahasa hewanlah yang akan dikuasainya. Anda setuju dengan pendapat itu?
Selain faktor biologis dan sosial, ada unsur lain yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak-anak. Kedua faktor itu adalah intelegensi dan motivasi.

3. Faktor Intelegensi
Intelengesi adalah daya atau kemampuan anak dalam berpikir atau bernalar. Zanden (1980) mendefinisikannya sebagai kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Intelengesiini bersifat abstrak dan tak dapat diamati secara langsung. Pemahaman kita tentan tingkat intelengensi seseorang hanya dapat disimpulkan melalui perilakunya.
Kemudian, bagaimana pengaruh faktor untuk mengatakan bahwa anak yang bernalar anak? Sebenarnya, penulis tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa anak yang bernalar tinggi lebih tinggi akan lebih sukses dari pada anak yang berdaya nalar pas-pasan kecuali, tentu saja anak-anak yang sangat rendah intelegensinya seperti yang telah dijelaskan pada faktor bilogis, dapat belajar dan memperoleh bahasa dengan sukses. Perbedaannya terletak pada jangka waktu dan tingkat kreativitas. Anak yang berintelengensi tinggi, tingkat pencapaian bahasanya cenderung lebih cepat, lebih banyak dan lebh bevariasi bahasanya dari pada anak-anak yang bernalar sedang atau rendah.

4. Faktor Motivasi
Benson (1988) menyatakan bahwa kekuatan motivasi dapat menjelaskan “Mengapa seorang anak yang normal sukses mempelajari bahasa ibunya”. Sumber motivasi itu ada 2 yaitu dari dalam dan luar diri anak.
Dalam belajar bahasa seorang anak tidak terdorong demi bahasa sendiri. Dia belajar bahasa karena kebutuhan dasar yang bersifat, seperti lapar, haus, serta perlu perhatian dan kasih sayang (Goodman, 1986; Tompkins dan Hoskisson. 1995). Inilah yang disebut motivasi intrinsik yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Untuk itulah mereka memerlukan kemunikasi dengan sekitarnya. Kebutuhan komunikasi ini ditunjukkan agar dia dapat dipahami dan memahami guna mewujudkan kepentingan dirinya.
Dalam perkembangan selanjutnya si anak merasakan bahwa komunikasi bahasa yang dilakukannya membuat orang lain senang dan gembira sehingg dia pin kerap menerima pujian dan respon baik dari mitra bicaranya. Kondisi ini memacu anak untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi. Nak karena dorongan belajar anak itu berasal dari luar dirinya maka motivasinya disebut motivasi ekstrinsik.


B. STRATEGI PEMEROLEHAN BAHASA ANAK
Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil cenderung lebih cepat belajar dan menguasai suatu bahsa. Dalam lingkungan masyarakat bahasa apa pun mereka hidup anak-anak hanya memerlukan waktu relatif sebentar untuk menguasai sistem bahasa itu. Apalagi kalau mereka berada dalam lingkungan bahasa ibunya (B1).
Sebenarnya strategi apa yang ditempuh anak-anak dalam belajar bahasa sehingga dengan cepat mereka dapat menguasai itu. Padahal mereka tidak sengaja belajar atau diajari secara khusus. Ternyata, untuk memperoleh kemampuan bahasa lisannya mereka melakukannya dengan berbagai cara seperti di bawah ini.

1. Mengingat
Mengapa memainkan peranan penting dalam belajar bahasa anak atau belajar apa pun. Setiap pengalaman indrawi yang dilalui anak, direkam dalam benaknya. Ketika dia menyentuh, mencerap, mencium, melihat, dan mendengar sesuatu, memori anak menyimpangnya. Pancaindra itu sangat penting bagi anak dalam membangun pengetahuan tentang dunianya.
Pada setiap awal belajar bahasa, anak mulai membangun pengetahuan tentang kombinasi bunyi-bunuyi tertentu yang menyertai dan merujuk pada sesusatu yang dia alami. Ingatan itu akan semakin kuat, terutama apabila penyebutan akan benda atau peristiwa tertentu terjadi berulang-ulang. Dengan cara ini, anak-anak mengingat kata-kata tentang sesusatu sekaligus berulang-ulang pula cara mengucapnya.
Hanya saja, khasanah bahasa yang diingat anak ketika diucapkan tidak salah tepat. Mungkin lafalnya kurang pas atau hanya suku kata awal atau akhirnya saja. Hal ini terjadi karena pertumbuhan otak dan alat ucap anak masih sedsang berkembang. Dia menyimpan kata yang dia dengar, yang dia diperlukan dalam memorinya. Dia pun mencoba mengatakannya. Namun tingkat perkembangannya yang belum memungkinkan dia melafalkan tuturan sesempurna orang dewasa. Oleh kareana itu, dalam berbahasa biasanya anak dibantu oleh ekspresi, gerak tangan atau menunjuk benda-benda tertentu. Inilah versi bahasa anak.
Mengingat kondisi itu, dalam berkomunikasi dengan anak biasanya orang tua atau orang dewasa menyederhanakan bahasanya. Penyerderhanaan itu diwujudkan dalam tuturan yang pelan, ekspresif, dan modifikasi kata yang mudah diingat dan diucapkan anak, seperti kata “pus” untuk kucing, “mimi” untuk minum, “mamam” atau “Ma’em” untuk makan, “bobo” tidur, dan “pipis” untuk kencing.

2. Meniru
Strategi penting lainnya yang dilakukan anak dalam belajar bahasa adalah peneriuan. Perwujudan strategi ini sebenarnya tak dapat dipisahkan dasri strategi mengingat. Kemudian apakah peniruan yang dilakukan dalam belajar bahasa itu seperti beo? Apakah dia meniru bulat-bulat dan hanya sekedar mengulang kembali apa yang didengarnya?
Perkataan anak tidaklah selalu merupakan pengulangan searah persis apa yang didengarnya, seperti halnya beo. Cobalah anda amati atau minta seorang anak mengulang suatu tuturan yang dicontohlan. Anda akan menemukan bahwa tuturan anak cenderung mengalami perubahan. Perubahan itu daopat berupa pengurangan, penambahan, dan penggatian kata atau pengurutan susunan kata. Mengapat begitu?
Sedikitnya ada 2 penyebab. Penyebab pertama, berkaitan dengan perkembangan otak, penguasaan kaidah bahasa, serta alat ucap. Dengan demikian anak hanya akan mengucapkan tuturan yang telah dikuasainya. Penyebab kedua, berkenaan dengan kreativitas berbahasa anak. Di suastu sisim secsara bertahap dia dapat memahami dan menggunakan suastu sistem bahasa yang memungkinkan dia mengerti dan memproduksi jumlah tuturan yang tak terbatas. Keadaan ini mendorong anak senang melakukan percobaan atau eksperimen dalam berbhasa . percobaan ini terus berlangsung sampai kemampuan berbahasanya berpindah pada tingkat yang lebih kompleks.
Atas dasar itu pula, tampaknya sulit bagi anak untuk meniru bulat-bulat tuturan orang dewasa. Mengapa? Sebab, apabila anak berkonsentrasi pada tuturan tersebut maka perkembangan kemampuan komunikasinya akan sangat terganggu. Hasilnya pun akan sangat terbatas (MaCaualay, 1980). Oleh karena itu tak perlu heran apabila suatu ketika anda mendengar anak mampu memproduksi tuturan yang belum penrah anda dengar sebelumnya. Hal ini terjadi karena dalam belajar bahasa, seorang anak tidak sekedar menangkap kata-kata. Dia juga terutama karena mencerna prinsip-prinsip organisasi bahasa secara alami. Dengan demikian, sifast peniruan anak cenderung bersifat dinamis dan kreatif.  Oleh karena strategi peniruan itu pula maka model (orang) yang memberikan masukan kebahasaan kepada anak sangat mempengaruhi corak bahasa yang baik. Sebaliknya, apabila modelnya kurang baik maka versi bahasa yang kurang baik itulah yang akan dipelajarinya.














wastksdbrajaselebah.blogspot.com/.../pengertian-dan-teori-pemeroleh...


Referensi:
Harras, Kholid A. dan Andika Dutha Bachari. (2009). Dasar-dasar Psikolinguistik. Bandung: UPI press.
Mar’at, Samsunuwiyati. (2005). Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.
Ruqayyah. (2008). Pemerolehan Bahasa Anak Usia 4-6 Tahun (Tinjauan tentang Jenis Tindak Tutur yang Dikuasai Anak Usia 4-6 Tahun, Studi Kasus Anak Usia 4-6 Tahun di Taman Kanak-kanak Al-mustaqim). [Online]. Tersedia: http://massofa.wordpress.com/2008/11/19/pemerolehan-bahasa-anak-usia-4-6-tahun/ html (19 Mei 2009).
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar